Macbeth

Diam dan menari adalah dua dunia yang berbeda. Pertunjukan tarian tanpa musik atau kebisingan adalah sesuatu yang tidak terpikirkan. Artis pertunjukan Indonesia Melati Suryodarmo berhasil menggabungkan dua dunia yang berbeda ini selama pembukaan Festival Tari Indonesia 2016 pada hari Selasa di Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Diberi judul Besok, seperti yang dimaksudkan, pertunjukan ini terinspirasi oleh William Shakespeare Macbeth. Mereka yang sudah akrab dengan kisah ambisi seorang jenderal Skotlandia setelah mendengar ramalan dari tiga penyihir mungkin menemukan bahwa Melati mempresentasikannya dengan cara yang sama sekali berbeda, ketika dia memilih untuk berbagi interpretasinya sendiri dengan menggambarkan tema keserakahan melalui tarian, teater dan musik .

Diam dan menari adalah dua dunia yang berbeda. Pertunjukan tarian tanpa musik atau kebisingan adalah sesuatu yang tidak terpikirkan. Artis pertunjukan Indonesia Melati Suryodarmo berhasil menggabungkan dua dunia yang berbeda ini selama pembukaan Festival Tari Indonesia 2016 pada hari Selasa di Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Diberi judul Besok, seperti yang dimaksudkan, pertunjukan ini terinspirasi oleh William Shakespeare Macbeth. Mereka yang sudah akrab dengan kisah ambisi seorang jenderal Skotlandia setelah mendengar ramalan dari tiga penyihir mungkin menemukan bahwa Melati mempresentasikannya dengan cara yang sama sekali berbeda, ketika dia memilih untuk berbagi interpretasinya sendiri dengan menggambarkan tema keserakahan melalui tarian, teater dan musik .
Pertunjukan dimulai dengan seorang pria berpakaian merah, berdiri di atas panggung dan menatap penonton. Ruangan itu sunyi sampai pemain itu bergerak perlahan. Keheningan ini menarik perhatian penonton dan membuat mereka menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Adegan yang berjalan lambat tidak membuat acara itu membosankan. Perlahan tapi pasti, panggung menjadi hidup, tetapi dengan suara yang sangat minim. Gerakan para penari lambat, tetapi gerakan tubuh mereka kuat. Kesunyian itu kemudian dipecahkan dengan suara koin dijatuhkan di panggung, menggambarkan keserakahan. Kemudian diikuti oleh lagu dan musik yang diputar pada volume rendah.

Melati dengan cerdas memasukkan Paduan Suara Voca Erudita dari Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta ke dalam pertunjukan. Penonton dengan cepat terhipnotis ketika paduan suara muncul di panggung dan membawakan lagu-lagu.

Tujuan Melati jelas. Dia ingin menunjukkan bahwa terkadang keheningan berbicara lebih keras daripada kebisingan. Bahkan ketika tubuh manusia bergerak lambat, itu sebenarnya bisa menceritakan sebuah kisah, asal kita mau memperhatikan. (kes)